Divusi | IT Satisfaction Provider

Mulai Senin kemarin (27 Oktober 2008), Divusi membantu DepBudPar melaksanakan pelatihan untuk UKM pariwisata di Hotel Santika, Jogjakarta. Pada Selasa sore, sesinya adalah pelatihan menulis dan mengelola blog dengan mesin Wordpress, dipandu oleh teman-teman dari CahAndong: Yahya Kurniawan, Tika, dan Eko.

Peserta membuat akun blog, lantas memilih username dan password. Dalam mesin Wordpress, saat kita memilih password, program akan memberi masukan apakah password tersebut bagus (strong) atau buruk (bad), dinilai dari kemungkinan dibobol.

Berhubung mayoritas peserta masih belum pernah nge-blog, mereka awalnya memasukkan password yang terdiri dari nama sendiri, tanggal lahir, dan lain-lain. Sampai-sampai ada yang mengeluh, “Kok password saya bad terus, sih?”

Strongest Password in the Universe

Salah seorang pria yang dipandu Tika malah sebaliknya. Password yang ia ketikkan dinilai “Strong”. Ia mengekeh bangga. “Password-ku strong-e!” ujarnya bangga dengan logat yang kental. Namun kemudian, dia tertegun. “Mbak, ini kotak kosong di bawahnya apa, ya?”

“Oh, itu untuk konfirmasi, Pak,” jawab Tika. Ketikkan aja password-nya sekali lagi di situ.”

Bapak itu mengangguk. Lantas bersiap mengetik, dan kembali terdiam. “Eh, [password-nya] apa, ya?” tanyanya bingung.

Betul-betul password yang hebat.

_______________

Ditulis pertama kali di blog Bertanya atau Mati.

Belajar Manajemen Obama

Berikut saya copy paste sebuah Artikel menarik dari suplemen Teropong Pikiran Rakyat, Senin 10 Nopember 2008. Semoga bermanfaat!

Belajar Manajemen Obama

Oleh Tendi Haruman

Pesta demokrasi di Amerika Serikat telah usai. Kita semua tahu bahwa Barack Obama berhasil mengungguli rivalnya, senator senior dan berpengalaman, John McCain. Obama berhasil mengorganisasi dan mengintegrasikan sumber daya (manusia, uang, dan mesin) dan teknologi dengan menerapkan manajemen bisnis yang tepat. Kemenangan yang diraih pun begitu fenomenal dan dunia sangat berharap perubahan dari dirinya. Tulisan ini mengulas keberhasilan Obama dari perspektif manajemen strategi dan bisnis.

Ada semacam doktrin dalam ilmu manajemen bahwa keberhasilan (kegagalan) suatu organisasi ditentukan oleh baik (buruknya) manajemen yang diterapkan. Manajemen didefinisikan mencapai tujuan yang ditetapkan dengan menggunakan orang lain. Sementara strategi dapat diartikan sebagai upaya organisasi mengadaptasi lingkungannya untuk memenangi persaingan.
Continue Reading »

Cukup itu Berapa…??

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “Cukup“…

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh,
dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang!

Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup. Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “Cukup“…

Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang , kurang dan kurang…

Kapankah kita bisa berkata “Cukup“…?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.

Tak perlu takut berkata cukup.
Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri.
Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.
Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia dan bersyukur…

Belajarlah untuk berkata “Cukup“…

InfoWorld mengumumkan software free dan open source terbaik di tahun 2008 yang tersedia untuk kalangan bisnis, profesional IT dan individual produktif. Software ini dapat digunakan sebagai alternatif software berbayar dan menghindari tindakan pemakaian software bajakan.

Para pemenang tersebut terdiri dari 8 kategori, yaitu:

Collaboration (social networking, wiki, blogging, groupware)
Elgg (social networking)
MediaWiki (wiki)
Scalix (media dan kalender)
VNC (remote control)
Wordpress (blog publishing)

Continue Reading »

Dari tulisan sebelumnya, “Semakin Fokus, Semakin Buta,” saya mencontohkan sejumlah bahaya dalam kehidupan karena inattentional blindness, alias kebutaan akibat tidak memerhatikan.

Apa relevansinya dengan presentasi?

Ya, perhatian pada hadirin.

Jika kita terlalu fokus pada apa yang mau kita sampaikan, kita bisa buta terhadap keadaan hadirin. Para pendengar kita. Padahal percuma kita berhasil menyampaikan semua yang ingin kita sampaikan jika mereka tidak berminat mendengar. Dalam 7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint, ini termasuk Dosa Besar ke-7: Berlindung di Balik Komputer.

Bisa jadi karena kita terlalu gugup, cari aman, atau memang tidak terbiasa. Apa pun alasannya, akan berbahaya jika kita tidak bisa membedakan apakah hadirin sedang menyimak dengan penuh minat, atau sedang diam-diam berdoa semoga presentasinya cepat selesai.

Lepaskan diri dari belenggu kebutaan itu. Dekatilah hadirin kita. Jalinlah kontak emosi.

Berbicaralah _dengan_ mereka. Bukan _pada_ mereka.