Cerita Perjalanan ke Padang Na Dimpu
Apr 23rd, 2008 by naryo
Sehari sebelum hari Idul Adha 1428 H, saya ditugaskan untuk berangkat ke kota Padangsidimpuan di kabupaten Tapanuli Selatan. Divusi memang sedang menuntaskan pekerjaan penting di salah satu kabupaten provinsi Sumatera Utara itu. Berangkat dari Bandung yang sore itu jalanannya dipenuhi oleh kendaraan yang sedang berlibur dalam rangka Idul Adha, cukup membuat sport jantung. Apalagi taksi seakan-akan telah habis dibooking oleh wisatawan yang datang ke Bandung. Tidak ada satu pun yang lewat atau datang setelah ditelepon. Daripada menunggu taksi yang tidak pasti akan tiba, saya memutuskan untuk memakai mobil sendiri untuk membawa barang-barang bawaan ke bandara.
Akhirnya, setelah 1 jam terjebak macet sangat panjang dari jalan layang Pasupati ke arah pintu tol Pasteur, saya tiba di bandara Hussein. Dengan tergopoh-gopoh, saya minta pak Mis dan pak Trisno mengangkut barang-barang berupa 6 dus besar dan 1 travelling bag masuk ke dalam bandara. Setelah sampai di depan meja boarding, petugas dengan tenangnya memberi kabar bahwa pesawat tujuan ke Padang belum datang. Ah, syukurlah.. (yang lain mungkin sebal karena delayed). Pesawat lalu diberangkatkan pukul 20.30 malam.
Sampai di kota Padang pukul 22.00, saya dijemput travel dari CV Citra Nasional (CN) untuk menuju Padangsidimpuan. Perjalanan cukup lancar walaupun melalui jalanan berliku dan bertikungan tajam. Pemandangan kanan-kiri jalan banyak dipenuhi hutan belukar, bukit, jurang dan lembah serta air terjun. Mobil yang saya tumpangi melewati Padangpanjang - Bukittinggi - Panyambungan - Siabu - Sayur Matinggi - Pintupadang - Padangsidimpuan. Sang sopir tampaknya tak mau membuang waktu di jalan, sehingga Padang - Padangsidimpuan ditempuh hanya dalam waktu sesingkat-singkatnya, 7 jam (normalnya 10 jam, walau kemudian dia menyerah diserang kantuk di Sayur Matinggi dan ganti saya yang menyopiri halah.. ). Mobil travel yang berangkat pukul 8 malam pun tersalip olehnya. Sampai di tujuan jam 6 pagi pas. Saya pun sempat turut melantunkan takbir dan mengikuti shalat hari raya Idul Adha.
Selama beberapa hari di sana, saya turut membantu menyelesaikan tugas-tugas para rekan yang berkantor di Padangsidimpuan. Tak lupa saya selalu mencoba online di Yahoo! Messenger melalui hp SE K510i saya dan hal ini sangat membantu di lapangan, karena komunikasi menjadi tidak terputus. Suatu malam sempat menelusuri jalanan kota ini untuk mencari martabak dan minuman dingin. Kalau diperhatikan dengan seksama, kenapa ya selalu ada tulisan Martabak atau Roti Bakar Khas Bandung di gerobak penjual martabak dan roti bakar. Sepertinya memang kota Padangsidimpuan dan kota Bandung punya hubungan khusus.
Kota Padangsidimpuan ternyata memiliki sejarah yang panjang. Berikut sekilas sejarah kota Padangsidimpuan yang diambil dari situs www.kotapadangsidimpuan.com:
“Sekitar tahun 1700 Kota Padangsidimpuan yang sekarang adalah lokasi dusun kecil yang disebut ” Padang Na Dimpu ” oleh para pedagang sebagai tempat peristirahatan, yang artinya suatu daratan di ketinggian yang ditumbuhi ilalang yang berlokasi di Kampung Bukit Kelurahan Wek II, dipinggiran Sungai Sangkumpal Bonang.
Pada tahun 1825 oleh Tuanku Lelo, salah seorang pengiriman pasukan kaum Padri, dibangun benteng Padangsidimpuan yang lokasinya ditentukan oleh Tuanku Tambusai, yang dipilih karena cukup strategis ditinjau dari sisi pertahanan karena dikelilingi oleh sungai yang berjurang.
Sejalan dengan perkembangan benteng Padangsidimpuan, maka aktivitas perdagangan berkembang di Sitamiang yang sekarang, termasuk perdagangan budak yang disebut Hatoban. Untuk setiap transaksi perdagangan Tuanku Lelo mengutip bea 10 persen dari nilai harga barang.
Melalui Traktat Hamdan tanggal 17 Maret 1824, kekuasaan Inggris di Sumatera diserahkan kepada Belanda, termasuk RECIDENCY TAPPANOOLI yang dibentuk Inggris tahun 1771.
Setelah menumpas gerakan kaum Padri tahun 1830, Belanda membentuk District (setingkat kewedanaan) Mandailing, District Angkola dan District Teluk Tapanuli di bawah kekuasaan GOVERNMENT SUMATRAS WEST KUST berkedudukan di Padang.
Dan tahun 1838 dibentuk dan Asisten Residennya berkedudukan di Padangsidimpuan. Setelah terbentuknya Residentie Tapanuli melalui Besluit Gubernur Jenderal tanggal 7 Desember 1842. Antara tahun 1885 sampai dengan 1906, Padangsidimpuan pernah menjadi Ibukota Residen Tapanuli.
Pada masa awal kemerdekaan, Kota Padangsidimpuan adalah merupakan Pusat Pemerintahan, dari lembah besar Tapanuli Selatan dan pernah menjadi Ibukota Kabupaten Angkola Sipirok sampai bergabung kembali Kabupaten Mandailing Natal.”
Foto: Sebuah kampung di Padangsidimpuan pada tahun 1870. Foto koleksi Meessen, J.A. Sumber: KITLV .
Berikut rekaman video yang kami miliki.
Suasana di pusat pertokoan (pasar) Padangsidimpuan. Martabak Bandung tampaknya sangat populer di kota ini. Saya hitung-hitung tadi ketika saya berjalan 100 meter saja kira-kira ada 5 penjual martabak. Di gerobaknya selalu ditulis “Martabak Khas Bandung”.
Jalan-jalan naik becak vespa menyusuri kawasan perdagangan kota Padangsidimpuan. Tampak gedung Padangsidimpuan City Walk dan bangunan pertokoan yang baru dibangun menandakan pembangunan ekonomi yang cukup pesat di kawasan kota ini.
Situasi dan kondisi jalan SM Raja Padasidimpuan. Terlihat bangunan Hotel Natama yang cukup terkenal di kota ini.
Situasi dan kondisi di jalan Merdeka, Sibuan. Di sisi kanan kiri terdapat pohon palem raja yang berjejer rapi. Jika kita memandang jauh ke depan, tampak pemandangan bukit yang masih hijau oleh pepohonan.





Assalamu’alaikum Pak Naryo,
Mohon informasi apakah Bapak memiliki nomor kontak Travel CV Citra Nasional? Bila ada, mohon kiranya dapat membantu kami, karena kami ingin melakukan pemesanan via telepon.
Terimakasih
Coba nomor ini pak: 0813.7451.1554
Assalamu’alaikum Pak Naryo,
Pak, dalam waktu dekat ini kami sekeluarga pindah Ke PSP, mohon info tarif travel dr Padang ke PSP via CN itu berapa ya Pak…sebaiknya lewat Padang atau lewat medan ya Pak kalo menempuh jalan darat?
Atas infonya kami ucapkan terimakasih.
–
Tarifnya sekitar Rp 70.000 - 80.000. Waktu itu saya lewat Padang karena menumpang pesawat dari Bandung. Kalau menurut saya, sebenarnya sama saja dari Padang atau Medan. Lewat Padang bisa mampir dulu di Bukittinggi untuk melihat-lihat objek wisata di sana. Kondisi jalan saat itu cukup baik. Beberapa ruas jalan sedang diperbaiki, hanya cukup untuk satu jalur. Jarak tempuh 8-10 jam.
setau saya, kalau ke padang sidimpuan lebih deket dari padang. 10 tahun yg lalu, kota padangsidimpuan amat menyenangkan. sekarang perkembangannya pesat sekali. sampai-sampai saya seperti orang asing ketika berkunjung thn 2008 kemarin.
saya kangen di kota lahirku padangsidimpuan tahun 1969 ayah saya ada di kampung sayurmatinggi setelah pensiun betah dikampung daripada di Jakarta.saya sih masih kerja buka merantau tapi berpindah-pindah ikut ayahnya waktu tugas dinas. saya selalu berkunjungi di padangsidimpuan waktu tesis ambil rumah adat mandailing sekalian pulang kampung.di kota padangsidimpuan belum ada Mal mal pada tahun 1999 sekarang mungkin sduah dibangun mal-mal benar gak?kalo benar, insya alah lebaran saya pulang kampung sekalian jalan2 mal mal padangsidimpuan.mudah2an warga tidak menatap saya bukan asing lagi hehehe tapi saya wanita padangsidimpuan atau wanita tuna rungu asal padangsidimpuan.Horas baa….
Terakhir saya menginjakkan kaki di sidimpuan tanggal 10 April 2009. Kebetulan,saya sudah sering melewati Jakarta-Padang-Padangsidimpuan. Hmmm..untuk tiket Travel dr Sidimpuan ke Padang itu 110.000 tp kalo penumpang yg dr Bandara biasanya ongkosnya di naikkan 20.000.
Sidimpuan masih tetap menjadi kota terindah buat saya, meski sekarang saya bekerja&Tinggal di Jakarta. Sekarang, di sidimpuan emang sudah ada 1 mall, tp orang2 masih lebih banyak berkunjung ke Pasar Sagumpal Bonang. Duch…..jadi pengen pulang nich…..
rindu nongkrong di depan halaman bolak dan di puncak simarsayangnya!!!! Sabar…….sabar…..
kerinduanku kepada kota kelahiranku saat ini melebihi kerinduaanku pada siapapun juga.Disana aku sangat bahagia,aku mendapatkan kasih sayang penuh dari semua orang.padahal baru 1 minggu aku meninggalkan kota itu.Itu memang kota yang sangat kecil,tapi bagiku itu adalah kota yang sangat besar.Bahkan melebihi ibu kota negara kita……………..(^.^)
Horas sidempuan…..
Akhirnya ada juga Forum sperti ini…
Saya udah lama caari Forum buat Sumatera.Tapi Sidempuan Khususnya,Karena Saya merindukan kampung kecil di kaki bukit Simarsayang..emang saya orang Tantom..TApi demi cita2,saya sekarang ada dibogor melanjutkan study Informatika..
Kalo ada yg mau Hubungi saya silahkan ke adventdec20@gmail.com..
Luph u Sidempuan…
Aku sudah cukup lama hijrah dari kota Padangsidimpuan. Tapi jujur, hatiku sulit untuk melupakan kota salak tempat dimana aku dilahirkan. Kampung Marancar, Jalan Arif Rahman adalah tempat aku dibesarkan. Ibu dan saudara-saudaraku masih disana. Hanya sekali setahun, kami bisa berkumpul. Ya, setiap lebaran idul fitri. Kepada teman-teman yang ikut curhat lewat media ini, saya mau nanya. Kalau dari Pekanbaru ke Padangsimpuan, apa travel yang bisa saya tumpangi ?… Thanks Fy
horas……….diamu sude disidimpuan,terutama dihamu par kampung selamat,biado sehat2 do amu sude,alhamdulillah ami pe dongan sehat2 do dison,malungun do hami giot mulak tai nadong ongkos giot mulak?mola adong namariboniroha bagi majolo mini2 i by ami sude dison..? bogor
hai pakabar buatmu anita cete,masa sih baru seminggu ninggalin sidimpuan rasa kangennya dah melalui batas,jangan terlalu ambil pusing lau kangen pulang aja naik mobil sampagul he……he………?
ah sidimpuan kota berjuta kenangan bagiku…aku skrang tinggal di pekanbaru,tapi masih teringat kota sidemuan na jogi…aku lahir dan besar disana..sampai sekarang aku masih rindu ssidempuan …kapan ya bisa kesana lagi?….ah…entahlah…hanya tuhan yang tahu…..
oh Pasid kampungku….aku akan datang. Pasid tempatku lahir sampai dengan SMA. Sekarang aku merantau ke Jakarta. Ingin rasanya pulang dan tinggal di kampung supaya dekat dengan Ortu yang semakin tua tapi apa daya semua ini karena pekerjaan…pekerjaan..
Tunggu aku akan datang…
Horas…
Saya kangen..Pasid ..gimana tidak saya SMP 1 dan SMA 1 dison..tapi sonnari madung di Batam demi kerja..
Moga kotaku makin maju.
salam
SALAM DARAI ANAK SIDEMPUAN BUAT KALIAN.
HORASSSSS…….HORASSSSSSSSSSSS…HORASSSS….
alHAMduliLLAH, kota PADANGSIDEMPUAN kota TMPtku KU DILAHirkan KIAN HARum namanYA. moga JAH donGAN2″ TEMEN2″ Yg berDARAH SIDEMPUAN tidak luPA KAMPUNG HALAMNNya.inFORMasi buaT Tmen2, PADANGSIDEMPUAN lage dalam tahapan prosES PEMEBENAHAN diri. yang INSYA ALLAH AKAn mnjadi IBU KOTA Provinsi SUMTENG” SUMATERA TENGGARA”. Moga rencana dan keiniginan putra/ putri asli sidempuan terealisasikan dengan baik nantinya DI TAHUN 2013. SElanjutnya, sidempuan memliki HOTel berstandar MUI. 2 dari hotel yang ada di indonesia, salah satunya di padang sdiempuan kota kita tercinta. dan 1 lagi hotel sofyan di JAKARTA.JADI TO DONGAN2 di pangarattoan, mare mahita rap hita pamaju kota nitaon. PULKAM bukanlah Pilhan yang salah. JIKa sudah berhasil di rantau orang…NANTINYA sidempuan menjadi basis perdagangan transit ( medan-sidempuan-padang), pekaN baru- sidempuan- padang) rindu kampung halaman……….. huffff….. nataralo bedah sidempuan niba on. bulung gadung featuring the sambal tuk2. Eky siregar KEHUTANAN bengkulu. malungun to kampung losung. Jln TEUKU UMAR.